jokowi ahok permalukan gubernur terdahulu

Minggu, 30 Desember 20120 komentar


dps Jelas tidak ada maksud sama sekali bagi Jokowi dan Ahok untuk mempermalukan pendahulunya, namun karena perbedaan gaya kepemimpinan saja yang menjadi penyebabnya, dan itu juga karena semangat ingin mengadakan perubahan. Gaya kepemimpinan pasangan itu adalah terbuka dan melibatkan publik, cara buka-bukaan itu yang dari dulu diinginkan oleh kalayak, namun tidak terkabulkan, dan pada era Jokowi Ahokketerbukaan itu menjadi kenyataan dan diterima publik. Bermula dari penolakan anggaran pelantikan yang dianggap ketinggian lalu dikoreksi, kemudian dilanjutkan dengan perilaku blusukan untuk mengetahui permasalahan dilapangan. Blusukan itu telah mengkagetkan warga tetapi disambut dengan sukaria, tidak ada protokoler yang membatasi, Jokowi juga tidak mempermasalahkan teriakan sukaria warga dengan menyebut Jokowi tanpa disertai sebutan Pak Jokowi. Padahal itu juga diteriakan oleh suara anak-anak. Ahok sebagai penjaga gawang, juga setali tiga uang dengan Jokowi, RAPBD yang telah disusun apik, dibongkar ulang dan disesuaikan dengan kepentingan yang realisitis, dan tidak tangung-tangung, sanggahan dari Dewan ditantang untuk buka-bukaan dan diliput media. Dari blusukan dan penggunaan anggaran tepat sasaran, kesejahteraan warga bisa ditingkatkan, ada berbagai macam bentuk kesejahteraan yang disubsidi oleh pemerintah daerah. Kesederhanaan dan apa adanya adalah kehidupan mereka, pelantikan pejabat setingkat wali kota, dilaksanakan jauh dari kesan mewah, lapangan bola kaki dikampung kumuh ternyata bisa digunakan untuk acara pelantikan itu dan tentu akan jauh dari acara makan-makan yang penuh kemewahan, gak pantaslah dialam terbuka dibawah terik panas mentari pagi diadakan acara makan-makan sebagai ungkapan syukuran, apalagi ditonton oleh warga yang notabene masih mengalami banyak kekurangan. Acara itu tentu tidak akan berbiaya mahal. Kegiatan blusukan kemana-mana dengan mobil dinas yang jauh dari kesan mewah tidak memerlukan kawalan motor pembuka jalan, Segala bentuk kemacetan dan banjir yang dialami warga juga dialami oleh Jokowi, bedanya Jokowi menjadi yang bertanggung jawab untuk menemukan solusi mengatasi macet dan banjir itu, jelas tidak mudah, telah berkali-kali berganti gubernur, dan telah banyak teori dan solusi yang dijabarkan dan dilaksanakan, tetapi masalah macet dan banjir belum juga teratasi, malah semakin parah. Biaya yang telah banyak dikeluarkan untuk mengatasi itu, menjadi percuma dan malah meninggalkan kerja yang terbengkalai. Tentu saja Jokowi pusing kepala mencari solusi apalagi, Lalu dengan kenekatan dan cara sederhana, Jokowi sang Gubernur tidak kaku berlaku sebagai kuli, gorong-gorongpun dituruni, Jokowi keget, dikira gorong-gorong untuk ukuran kota sebesar Jakarta itu seluas lapangan bola, ternyata hanya sedikit lebih besar dari gorong-gorong dikampung-kampung, pantasan banjir mudah datang dan engan untuk surut lagi, barangkali kalau ditelusuri lebih jauh, mungkin gorong-gorong itu sudah tersumbat lama dan lebih parah macetnya dibandingkan macetnya jalanan di Jakarta. Ahok yang mengetahui dari Jokowi tentang gorong-gorong cilik itu terkaget dan berkomentar, masak dari tahun tujuhpuluan tidak ada satupun pejabat yang bertanggung jawab yang tahu tentang gorong-gorong cilik itu, dan Ahok semakin kaget lagi setelah mengetahui biaya penyusunan pidato gubernur telah dianggarkan oleh anak buahnya sebesar RP 1,2 milyar, mahal amat biaya untuk ngomong-ngomong didepan corong itu. Begitulah Jokowi dan Ahok, gaya kepemimpinannya telah mempermalukan pendahulunya, tetapi ditiru oleh banyak pihak yang berlaku bak pemimpin sederhana yang merakyat.
Share this article :

Posting Komentar

 
Deposting | SAINS & TEGHNOLOGY
Deposting-----------------------Deposting----------------Deposting-----------------------Deposting De Pos Ting